Kota Tangerang Dikepung Banjir, Kepala BPBD Irit Bicara Terkait Data Pasti Wilayah Terdampak

2 Min Read

Infovalid.news (Banten, Kota Tangerang) – Intensitas hujan tinggi yang mengguyur wilayah Kota Tangerang sejak Minggu, 11 Januari 2026, mengakibatkan sejumlah titik terendam banjir dan memicu kemacetan parah. Kondisi terparah terpantau berada di wilayah Kecamatan Benda serta kemacetan panjang di sepanjang jalur protokol Jatiuwung.

Hujan yang tidak kunjung reda hingga hari ini, Senin (12/01/2026), membuat aktivitas warga lumpuh total. Di Kecamatan Benda, genangan air masih merendam pemukiman warga dengan ketinggian bervariasi, sementara di Jatiuwung, antrean kendaraan mengular akibat akses jalan yang terhambat genangan.

Namun, di tengah situasi darurat ini, respon dari pemangku kebijakan dinilai kurang transparan. Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Tangerang, Mahdiar, yang ditemui di lokasi kejadian justru terkesan irit bicara. Mahdiar tidak memberikan data spesifik mengenai jumlah titik wilayah yang terdampak maupun rincian langkah penanganan konkret yang sedang dilakukan di lapangan.

Kepala BPBD Kota Tangerang hanya menekankan bahwa pihaknya merujuk pada peringatan cuaca dari BMKG dan telah menyiagakan personel.

“Sesuai dengan prakiraan dari BMKG bahwa dari Desember hingga Februari 2026 ini ada potensi cuaca ekstrem. Kami di BPBD Kota Tangerang sudah menyiagakan ratusan personel dan alat berat termasuk perahu evakuasi dan pompa portable. Kami juga terus berkoordinasi dengan petugas di pintu air,” ujar Mahdiar saat memberikan keterangan singkat.

Meski pihak BPBD mengklaim ratusan personel dan pompa portabel telah disiagakan, kenyataan di lapangan menunjukkan banyak warga yang masih menunggu kepastian bantuan evakuasi dan penanganan air yang tak kunjung surut. Minimnya data sebaran banjir yang dibuka oleh BPBD menyulitkan koordinasi bantuan di lapangan.

Masyarakat Kota Tangerang diimbau untuk tetap waspada dan meningkatkan kesiapsiagaan, mengingat cuaca ekstrem diprediksi masih akan berlangsung hingga Februari mendatang. Warga diharapkan segera melapor melalui kanal darurat jika ketinggian air di wilayah masing-masing terus meningkat.

(infovalid.news – Rochman Rosadi)