Memasuki bulan suci ramadan, sejumlah pengemudi ojek online atau ojol di Kota Tangerang mengeluhkan penurunan pendapatan yang cukup signifikan.
Selain sepi orderan di siang hari, para driver kini menaruh harapan besar kepada pihak aplikator terkait pemberian bantuan hari raya atau BHR .
Mereka menilai, nominal bantuan pada tahun sebelumnya yang hanya berkisar lima puluh hingga seratus ribu rupiah, jauh dari kata layak.
Bulan Ramadhan yang seharusnya menjadi momen penuh berkah, justru dirasakan berat oleh para pejuang aspal, penurunan aktivitas masyarakat di siang hari berdampak langsung pada turunnya jumlah orderan yang mereka terima.
Kodisi ini diperparah dengan harapan akan tunjangan hari raya yang masih menjadi polemik. Para driver berharap pihak aplikator dapat memberikan bantuan hari raya atau BHR dengan skema yang lebih manusiawi.
Menurut para driver, bantuan tahun lalu yang hanya berkisar di angka lima puluh ribu hingga seratus ribu rupiah, dinilai tidak sebanding dengan biaya operasional dan kebutuhan lebaran yang kian meningkat.
Ali driver ojol mengatakan : “Pendapatnya sangat berkurang mungkin karena faktor dari bulan Ramadhan sepi tidak ada penumpang, mungkin orang orang tidak keluar rumah disaat ramadhan” katanya.
Arif pun sebagai driver ojek lain mengatakan : “Ramadhan kali ini benar benar sepi, narik dari pagi sampai sore cuma cukup kebeli bensin saja, harapannya tahun ini bisa dapat BHR yang pantas atau layak, yang bukan hanya lima puluh ribu atau seratus ribu saja seperti tahun kemarin yang hanya cukup untuk beli beras saja.” Katanya.
Aspirasi ini diharapkan dapat didengar oleh pihak manajemen aplikator, agar kesejahteraan mitra tetap terjaga di tengah dinamika ekonomi saat ini.
Para driver tetap bertahan di tengah keterbatasan, berharap ada kebijakan yang lebih berpihak pada mereka menjelang idul fitri nanti.
Persoalan THR atau Bantuan Hari Raya bagi pekerja kemitraan memang masih menjadi perdebatan panjang, namun kesejahteraan para mitra di lapangan tentu tidak boleh terabaikan.
info validnews, rochman rosadi, melaporkan dari tangerang.

