Kualitas perbaikan jalan rusak di Kota Tangerang kini tengah menjadi sorotan tajam Masyarakat.
Warga mengeluhkan pola perbaikan yang hanya berupa tambal sulam tanpa adanya
betonisasi atau pengecoran ulang secara permanen.
Pertanyaan pun muncul, sejauh mana efisiensi anggaran yang digunakan?, siapa yang mengawasi kerja mandiri tim PUPRĀ di lapangan?, dan apakah ini hanya menjadi
proyek penghamburan uang rakyat?.
Hampir di seluruh sudut kota tangerang, perbaikan jalan rusak tampak hanya dilakukan dengan metode tambal sulam. Aspal yangĀ baru diletakkan di atas lubang lama seringkali kembali terkelupas hanya dalamĀ hitungan minggu, terutama setelah diguyur hujan.
Pekerjaan ini dilakukan langsung oleh Tim Pemeliharaan Rutin dari Dinas PUPR. Namun, sistem pengerjaan mandiri ini memicu kecurigaan warga terkait pengawasan dan besaran anggaran yang dikucurkan. Tidak adanya papan informasi proyek di lokasi perbaikan membuat masyarakat buta akan nilai kontrak dan durasi ketahanan jalan.
RullyĀ (warga) mengatakan : āKalau saya baru denger anggaran angaran sementara,Ā mendingan sekalian aja dibeton dicor pakai anggaran lebih bagus, kalau pakaiĀ anggaran sementara nantinya rugi dong anggaran sementara itu dari mana kalau bukan pemerintah yang menangging. Kemarin saja yang ini sudah ditambal mas sekarang rusak lagi, kan rugi anggarannya dipakai sia sia. Katanya ā
Masyarakat kini mempertanyakan kalkulasi ekonomi Pemerintah. Jika perbaikan dilakukan berulang kali pada titik yang sama,
biaya yang dikeluarkan bisa jadi lebih besar daripada melakukan pengecoran
permanen sejak awal.
Hingga saat ini, rincian biaya pemeliharaan jalan per titik belum terbuka sepenuhnya ke publik. Siapa yang diuntungkan dan siapa
yang dirugikan dalam proyek āabadiā tambal sulam ini,Ā masih menjadi tandaĀ tanya besar.
Transparansi adalah kunci utama dalam pengelolaan anggaran daerah. Warga menanti jawaban tegas dari pemerintah Kota TangerangĀ terkait audit kualitas dan anggaran pemeliharaan infrastruktur ini.
Info Validnews, Rochman Rosadi.

