Kemenduk bangga BKKBN Dorong Usaha Keluarga Akseptor KB Naik Kelas di Era Digital 

Infovalid.news(Jakarta) – Dalam rangka mendukung pemberdayaan ekonomi keluarga, Kemenduk bangga BKKBN memperkuat peran UPPKA (Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Akseptor) agar lebih adaptif terhadap teknologi dan mampu bersaing di pasar modern. “Dalam era ekosistem digital saat ini, UPPKA dituntut untuk mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi, memanfaatkan platform digital sebagai sarana pemasaran, distribusi, dan penguatan jejaring usaha,” tegas Deputi Bidang KSPK, Nopian Andusti, dalam Persiapan Kurasi Produk UPPKA bertema “Penguatan UPPKA di Era Ekosistem Digital” yang digelar _hybrid_ di Jakarta dan disiarkan melalui Zoom Meeting serta YouTube pada Selasa (21/04/2026).

 

Sejalan dengan Asta Cita ke-4 tentang penguatan pembangunan sumber daya manusia dan Asta Cita ke-6 terkait pemerataan ekonomi serta penguatan UMKM, Kemendukbangga/BKKBN menempatkan pemberdayaan ekonomi keluarga sebagai prioritas strategis. Langkah ini juga selaras dengan program prioritas Presiden dalam percepatan investasi dan perdagangan global, melalui penguatan ekonomi masyarakat berbasis keluarga dan komunitas sebagai fondasi pembangunan nasional yang berkelanjutan.

Kegiatan persiapan kurasi ini menjadi langkah awal dalam mengidentifikasi kelompok UPPKA unggulan, memperkuat kesiapan produk, serta membangun kolaborasi yang lebih terarah dalam pengembangan usaha. Deputi KSPK berharap seluruh kelompok UPPKA di Indonesia dapat terintegrasi dengan sistem pembayaran digital serta memiliki manajemen stok yang lebih terukur, sehingga mampu menembus pasar formal dengan daya saing yang tinggi.

 

Dalam konteks yang lebih luas, penguatan UPPKA sejalan dengan dominasi usaha mikro dalam struktur usaha nasional yang mencapai 96,84 persen atau sekitar 54,4 juta unit (Sakernas 2024), sehingga perannya menjadi krusial dalam mendorong ekonomi inklusif. Sejalan dengan hal itu, Asisten Deputi Pemasaran dan Digitalisasi Usaha Mikro Kementerian UMKM, Andri, SE, menegaskan bahwa kesiapan dan konsistensi menjadi kunci menghadapi persaingan. “Kita harus bisa bersaing dengan produk-produk lain yang ada di luar, harus konsisten, jadi nggak asal bikin produk,” ujarnya.

 

Sementara itu, _Founder_ Sekolah Digital Bisnis Indonesia, Yoso Lukito, menekankan bahwa kurasi tidak hanya berfokus pada kelayakan produk, tetapi juga pada peningkatan nilai bisnis. Ia menyebutkan lima titik krusial dalam kurasi UPPKA, yaitu nilai produk, kemasan dan visual branding, kehadiran digital, kepercayaan dan bukti sosial, serta sistem bisnis termasuk pembayaran dan keuangan. “Hari ini bukan lagi soal jualan, tapi soal siapa yang paling siap masuk ke fase bisnis yang dilihat, dipercaya, dan dipilih pasar,” tegasnya.

 

Agar produk UPPKA dapat naik kelas, Yoso Lukito menekankan pentingnya menghadirkan nilai unik yang tidak dimiliki kompetitor. Selain itu, pelaku usaha perlu memperhatikan desain kemasan, termasuk pemilihan _color palette_ yang sesuai dengan karakter produk, serta menghasilkan foto produk yang menarik melalui berbagai _angle_. Optimalisasi media sosial juga menjadi kunci pemasaran, yang dilengkapi dengan testimoni, ulasan, dan dokumentasi penjualan. Tak kalah penting, pencatatan keuangan sederhana perlu diterapkan agar arus kas tetap tertata—sebagai fondasi kuat bagi UPPKA untuk melesat naik kelas.

 

Melalui kegiatan ini, Kemendukbangga/BKKBN optimistis UPPKA akan menjadi motor penggerak ekonomi kerakyatan yang tangguh. Peningkatan kapasitas dan daya saing UPPKA diharapkan mampu berkontribusi signifikan terhadap penurunan angka stunting dan kemiskinan ekstrem melalui peningkatan pendapatan keluarga yang layak, sehingga UPPKA dapat terus bertumbuh, semakin berdaya saing, dan siap naik kelas.

 

(Infovalid.news – Nanda Nuri)

Rekomendasi Untuk Anda