Membangun Ekosistem Ketahanan Masyarakat Melalui Program Destana Perlu Didukung Integrasi data Risiko bencana, informasi iklim, dan program pembangunan

Infovalid.news (Banten, Serang) – Sesi diskusi atau Sharing Session bertajuk Membangun Ekosistem Ketahanan Masyarakat: Integrasi Data, Informasi Iklim, dan Pembangunan Desa untuk Mengurangi Risiko Bencana dan Adaptasi Perubahan Iklim pada rangkaian Pembelajaran Program SIAP SIAGA dalam Peringatan Bulan Pengurangan Risiko Bencana (PRB) 2026, di Kota Serang, Banten, Selasa (13/10).

Penguatan program Desa Tangguh Bencana (Destana) yang dinisiasi oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) perlu didukung integrasi data risiko bencana, informasi iklim, dan program pembangunan agar upaya membangun ketangguhan masyarakat yang berkelanjutan berjalan sesuai kebutuhan setiap desa. Kolaborasi lintas kementerian atau lembaga menjadi kunci untuk memastikan masyarakat tidak hanya mampu mengenali ancaman, tetapi juga memiliki kapasitas untuk mengantisipasi bencana, menjaga penghidupan, dan memulihkan diri ketika terjadi bencana.

Perwakilan BNPB, Melisa, “Penguatan ketangguhan desa perlu dimulai dari partisipasi masyarakat dalam mengenali risiko di wilayahnya. Melalui kajian risiko dan pembahasan sistem peringatan dini, masyarakat dapat memahami potensi ancaman yang dihadapi sekaligus mengidentifikasi kebutuhan penguatan kapasitas secara lebih konkret”.

Pendekatan tersebut menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama dalam membangun ketangguhan. Program yang dijalankan di desa perlu menjawab kebutuhan setempat dan memperkuat kapasitas yang telah dimiliki masyarakat, bukan semata-mata menawarkan kegiatan yang sudah tersedia tanpa mempertimbangkan kondisi dan risiko di wilayah tersebut.

Sementara itu Direktur Adaptasi Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup, Franky Zamzani, “ ProKlim dan pemanfaatan Sistem Informasi Data Indeks Kerentanan (SIDIK) dalam memperkuat ketahanan iklim. Pendekatan tersebut menekankan pentingnya aksi yang dimulai dari masyarakat dengan mempertimbangkan kerentanan dan kebutuhan lokal”.

Melalui ProKlim, masyarakat didorong menjalankan aksi adaptasi dan mitigasi perubahan iklim, seperti pengelolaan sampah, perlindungan vegetasi, pengelolaan lingkungan, serta penyesuaian aktivitas terhadap perubahan kondisi iklim. Pelaksanaan kegiatan perlu mempertimbangkan karakteristik wilayah dan sumber penghidupan masyarakat agar manfaatnya sesuai dengan kebutuhan setempat.

(infovalid.news – ian)

Rekomendasi Untuk Anda