Olahraga Ekstrim Picu Henti Jantung Mendadak

Infovalid.news (KOTA TANGERANG) – Tren berolahraga di masyarakat kian meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Mulai dari lari (running), bersepeda (cycling), hingga sepak bola mini kini digandrungi oleh berbagai kalangan, terutama generasi muda dan profesional urban yang disebut sebagai sport enthusiast. Namun di balik semangat menjaga kebugaran tubuh, tersimpan sebuah ancaman tersembunyi yang kerap datang tanpa aba-aba yaitu henti jantung mendadak (sudden cardiac arrest).

Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah RS Melati Kota Tangerang dr. Sheila Adiwinata, Sp. JP, FIHA mengatakan, henti jantung mendadak merupakan suatu kondisi kegawatdaruratan di mana jantung berhenti memompa darah secara mendadak, sehingga terhentinya aliran darah baik ke otak ataupun ke organ tubuh vital lainnya.

Menurutnya, henti jantung berbeda dengan serangan jantung. Henti jantung terjadi secara tiba-tiba dan seringkali tanpa peringatan. Penyebabnya adalah kerusakan listrik di jantung yang mengakibatkan detak jantung tidak teratur atau aritmia.

Sementara serangan jantung, tambahnya, karena terputusnya suplai darah ke otot jantung. Sering kali penyebabnya adalah karena gumpalan di salah satu arteri coroner. Saat terjadi serangan jantung, jantung tetap memompa darah ke semua bagian tubuh, masih sadar dan bernapas dan yang terpenting serangan jantung bisa menjadi penyebab terjadinya henti jantung.

Lanjutnya, olahraga bukan sebagai penyebab utama. Namun sebagai faktor pemicu terjadinya henti jantung, karena melakukan olahraga ekstrim dan kompetitif yang memicu jantung untuk bekerja lebih berat ditambah tubuh membutuhkan aliran darah dan oksigen lebih tinggi. Pada kondisi seseorang baik dengan riwayat gangguan irama jantung ataupun sumbatan pada pembuluh darah jantung atau penyakit jantung koroner, aktivitas saraf simpatis secara berlebih yang terjadi dapat berdampak terjadinya henti jantung mendadak.

Sementara pada individu usia muda dan tidak memiliki riwayat jantung juga harus berhati-hati terhadap terjadinya henti jantung mendadak saat olahraga. Perlu dipahami bahwa penyakit jantung tidak hanya menyerang individu usia lanjut, tetapi dapat juga terjadi sejak lahir. Karena, dalam melaksanakan tugas untuk memompa darah, jantung memerlukan ion-ion untuk menciptakan arus listrik dan nanti berkontribusi memicu detak dan kontraksi jantung.

“Cuaca ekstrim baik panas atau dingin, kondisi kelelahan atau kurang tidur yang menyebabkan tubuh tidak bugar, infeksi bakteri, virus atau kelainan paru yang diderita sebelumnya saat melakukan olahraga, dehidrasi, gangguan elektrolit dan penggunaan obat atau minuman penambah stamina berlebih, jadi pemicu lainnya,” ucapnya.

Ia mengaku, kasus henti jantung mendadak saat olahraga sering ditemukan pada usia muda yang mungkin tanpa disertai gejala jantung yang signifikan. Sehingga penting sekali untuk memahami dan mengenali gejala jantung ringan yang terjadi. Seperti dada berdebar, sesak nafas, pusing atau pandangan gelap ataupun rasa tidak nyaman di dada yang terjadi saat olahraga. Beberapa keluhan ini bisa menjadi alarm dini untuk menyadari adanya gejala ringan penyakit jantung.

“Setiap individu yang hendak melakukan olahraga ekstrim dan kompetitif, diharapkan menguasai tindakan resusitasi jantung paru. Sehingga pada saat henti jantung terjadi, diharapkan dapat membantu melakukan tindakan resusitasi jantung paru dan menggunakan alat pacu jantung otomatis (AED) secara cepat dan tepat,” tutupnya. (Infovalid.news – id)

TAGGED:
Rekomendasi Untuk Anda